Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Januari 2011

Makin Akrab dengan Bencana

Transisi tahun 2010-2011 kok berita makin identik dengan bencana ya?
Ga cuma di Indonesia aja lho, tapi hampir merata di seluruh dunia.
Kita pasti tahu Gunung Merapi, Gunung Bromo pada meletus, nah apakah anda tahu bahwa di luar negeri juga banyak bencana?


1. Badai Salju Kawasan Eropa yang melanda mulai dari Inggris, Belgia, Jerman, Belanda, Portugal, Spanyol, Perancis, Polandia hingga Ukraina. Badai ini menghambat banyak penerbangan bahkan mengikis pendapatan perusahaan komputer ACER. Bisa membayangkan nggak sih bagi para tunawisma, apa yang akan terjadi? bisa nebak deh kebanyakan yang menjadi korban tewas pasti orang-orang yang nggak punya rumah..
Salju menutupi jalan-jalan di Spanyol.
2. Eropa mulai reda, nyambung ke New York Amerika Serikat. Sebenarnya salju ini merata di Pantai Timur AS dan  merupakan salju terparah dalam sejarah selama 60 tahun. Bahkan katanya nih, konser Lady Gagap eh Gaga juga batal gara-gara badai ini. Tumpukan salju sampai menggunung 45-50 cm. Coba ya kalo salju tu nemploknya di rumah-rumah.. Kalau nggak dibersihkan kebayang bisa-bisa roboh rumahnya. Nggak usah ditanya lagi mengenai macetnya jalur ekonomi kota yang merupakan salah satu pusat komando ekonomi dunia ini. Ya, orang-orang kaya sih enak bisa nemplok di mesin penghangat ruangan. Nah lho bagi para gelandangan? mo nemplok dimana coba?
3. New York "agak-agak" reda, next contestan is Canada!!!!
Betul, giliran Kanada nih yang kena badai salju dan memutuskan aliran listrik ke 40.000 rumah di kawasan sepanjang pantai Altlantik. Kebayang ngga sih suhu yang membeku tanpa aliran listrik di rumah? pemanas ruangan yang menggunakan listrik pasti nggak bisa dipakai dong.
4. Queensland Australia tenggelam. Banjir bahkan mencapai 9 meter akibat sungai-sungai meluap karena suhu meningkat di Victoria. Sampai saat ini sih katanya 2 orang meninggal. Kenapa ya kita sangat rasis? artinya hanya peduli pada angka-angka spesies kita sendiri? bukan meremehkan korban dari manusia aja, tapi kebayang ga hewan-hewan yang hidup disana tersapu banjir?
Ular nampak menyelamatkan diri dari banjir. Sumber: Treehugger.com
 Semuanya salah sih, Pemerintah dunia salah karena kebijakan lebih berpihak pada bagaimana uang dihasilkan dari instrumen-instrumen ekonomi negara tanpa mau tahu (walaupun sebenarnya anak kecil juga tahu) kondisi alam akibat eksploitasi tanpa batas manusia. Perusahaan salah, karena terus-terusan berusaha memperbesar keuntungan dan lupa bahwa alam memiliki batas untuk mendukung kehidupan. Masyarakat luas juga salah, alih-alih berusaha bertanggung jawab memakai produk dari perusahaan yang bertanggungjawab juga dan mematuhi aturan malah menyalahkan pemerintah dan perusahaan. Tanpa merasa bersalah kita seenak udel memakai listrik mubazir, gaya-gayaan memakai mobil walaupun bisa jalan kaki. Merasa amit-amit naik transportasi umum (naik bis kota ini itu merasa jijik, nyalahin pemerintah karena bis jelek, pengen kayak di New York bisnya tapi bayar tetep 2000, hayo?)
Semuanya salah. Coba anda tengok ke halaman, berapa jumlah pohon yang ada dan berapa batang pohon yang anda tanam sendiri?
Kalo kita masih tidak sadar, bencana nggak akan pergi.

Jumat, 05 November 2010

Abu Vulkanik Merapi mencapai Garut

Wow....

pagi tadi pada ribut anak-anak bilang kalau ada hujan abu, saya pikir hujan abu dari Gunung Papandayan dan sontak saya lari untuk melihat Gunung Papandayan yang ternyata aman-aman saja.
Siang hari beberapa tetangga kembali ribut kalau abu tipis mengotori motor-motor yang diparkir. Saya penasaran apa betul ada hujan abu? akhirnya saya mengambil kertas HVS dan menyimpannya di luar. Saya kembali mengambil kertas tersebut 15 menit kemudian dan memang betul ada butiran-butiran halus berwarna hitam yang mana bila dipegang akan buyar. Saya termasuk yang punya "sedikit" asma dan jangan-jangan debu inilah yang membuat saya sedikit sesak. 
eksperimen kecil-kecilan hehehe menadah abu vulkanik Merapi
Sebetulnya abu vulkanik itu apa sih?

Kamis, 28 Oktober 2010

Belajar dari Bencana?

Sadar ga sih setiap kita bencana hal yang pertama kali kita lakukan adalah mencak-mencak sama pemerintah?


Sebagai negara yang masih muda, negara kita harus banyak belajar untuk mampu menguasai ilmu-ilmu alam.
Atau manusia-manusia Indonesia adalah manusia-manusia kota yang berambisi menaklukan alam dan menjadikannya hamba manusia?

Kamis, 08 Oktober 2009

Mencairnya Metana dapat Memicu Kiamat



Satu lagi berita buruk, pemanasan global juga membawa satu potensi bencana besar bagi planet kita, yaitu mencairnya methane hydrates: metana beku yang tersimpan dalam bentuk es. Jumlahnya cukup mencengangkan: 3.000 kali dari metana yang saat ini ada di atmosfer.




Planet bumi menyimpan metana beku dalam jumlah yang sangat besar yang disebut dengan methane hydrates atau methane clathrates. Methane hydrates banyak ditemukan di kutub utara dan kutub selatan, dimana suhu permukaan air kurang dari 0 derajat Celcius, atau dasar laut pada kedalaman lebih dari 300 meter, dimana temperatur air ada di kisaran 20 Celcius.
Methane hydrates juga ditemukan di danau-danau yang dalam, seperti danau Baikal di Siberia. Metana adalah gas dengan emisi rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2), yang berarti gas ini kontributor yang sangat buruk bagi pemanasan global yang sedang berlangsung. Berita buruknya adalah pemanasan global membuat suhu es di kutub utara dan kutub selatan menjadi semakin panas, sehingga metana beku yang tersimpan dalam lapisan es di kedua kutub tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer. Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku, dan gas ini dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di antartika yang runtuh. Anda bisa membayangkan betapa mengerikannya keadaan ini: Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer! Ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair karena makin panasnya suhu lautan akibat pemanasan global.
Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah sehingga mungkin dapat disetarakan dengan kiamat! Apakah ini fantasi yang dibuat-buat oleh aktifis lingkungan dan ilmuwan-ilmuwan paranoid? Sayangnya tidak. Bukti-bukti geologi yang kuat menyatakan sedikitnya sudah dua kali planet kita mengalami kejadian ini. Para ahli geologi menemukan bahwa malapetaka besar ini pernah terjadi kurang lebih 55 juta tahun lalu yang disebut oleh para ilmuwan sebagai Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM). Saat itu semburan metana naik ke permukaan sehingga mengakibatkan pemanasan planet dengan sangat cepat dan menyebabkan kematian massal, kemudian mengganggu keadaan iklim bumi.

Mencairnya Es Abadi di Siberia: Krisis Iklim Global yang Kian Mengkhawatirkan

Daerah barat Siberia memiliki daerah kolam berlumpur seluas Perancis dan Jerman yang beku oleh es abadi. Daerah ini mengandung tidak kurang dari 70 miliar ton metana beku di dalamnya!
Peneliti Sergei Kirpotin dari Tomsk State University di Siberia dan Judith Marquand dari Universitas Oxford pada tahun 2005 melaporkan bahwa satu juta kilometer persegi es abadi di sana telah mulai mencair. Sebuah studi yang dipublikasikan pada majalah Nature edisi ke-7 yang ditulis oleh Katey Walter dari University of Alaska dan Jeff Chanton dari Florida State University melaporkan bahwa kecepatan proses terlepasnya metana ke udara karena mencairnya es di Siberia ini mencapai lima kali lebih cepat dari perkiraan para ilmuwan sebelumnya.
Sebagaimana kita ketahui, metana memiliki emisi gas rumah kaca 23 kali lebih buruk dari CO2. Lebih banyak metana yang terlepas ke atmosfer berarti makin parah pula pemanasan global yang kita alami. Sudah saatnya kita sebagai penduduk dunia untuk melakukan tindakan nyata untuk menghentikan semua proses yang mengarah pada kehancuran ini.

Source: pemanasanglobal.net